Monday 31st of August 2026
×

Kronologi Robohnya Gedung Badminton Hogwan Brebes Peninggalan Belanda yang Menghancurkan 3 Rumah Warga

Kronologi Robohnya Gedung Badminton Hogwan Brebes Peninggalan Belanda yang Menghancurkan 3 Rumah Warga

--

Proses Evakuasi dan Identitas Tiga Korban Jiwa

Mendapat laporan kedaruratan, tim SAR gabungan dari unsur TNI, Polri, Basarnas, dan BPBD dibantu relawan setempat langsung dikerahkan ke lokasi untuk membuka akses jalan serta menyisir reruntuhan. Fokus utama petugas adalah melakukan penyelamatan terhadap para penghuni rumah yang dilaporkan terjebak di dalam kamar saat runtuhnya bangunan terjadi.

Pencarian berlangsung dramatis dan membutuhkan waktu berjam-jam menggunakan alat berat serta alat pemotong manual. Petugas awalnya berhasil mengevakuasi dua korban dari dalam runtuhan rumah milik Feti. Kedua korban merupakan anak-anak yang merupakan kakak beradik, yakni Kinarian Yusfina Arfadhia (8) dan Kinara Nafasya Jeslyn (4). Keduanya ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia akibat mengalami luka berat akibat tertimpa dinding kamar saat mereka sedang tidur.


Read more: Daftar Publik Figur yang Masuk Sebagai Pendukung 02 Prabowo-Gibran, Mulai dari Marshel Widianto Hingga Pasha Ungu

Proses evakuasi terus dilanjutkan hingga siang hari untuk mencari satu korban lain yang dilaporkan masih hilang. Tepat pada pukul 13.45 WIB, Kepala Pos BPBD Bumiayu Budi Sudjatmiko mengonfirmasi bahwa korban ketiga berhasil ditemukan di bawah tumpukan puing terdalam. Korban diidentifikasi sebagai seorang lansia bernama Kajat (Kanjat) berusia 83 tahun yang ditemukan dalam keadaan wafat. Ketiga jenazah korban langsung dibawa ke RSUD Bumiayu sebelum diserahkan secara resmi ke pihak keluarga untuk dimakamkan.

Asal-Usul Gedung Hogwan Peninggalan Belanda

Plt Camat Bumiayu Hendra Pradistyo memberikan penjelasan mengenai latar belakang bangunan ikonik tersebut. Gedung Hogwan merupakan salah satu bangunan tua bersejarah peninggalan era kolonial Belanda di wilayah Bumiayu. Struktur megah ini awalnya dibangun sekitar tahun 1901 atau era 1920-an dan digunakan sebagai pabrik pengolahan tepung tapioka skala besar.

Setelah pabrik tepung tersebut resmi ditutup puluhan tahun silam, bangunan ini dialihfungsikan oleh masyarakat lokal sebagai GOR dan lapangan olahraga badminton umum. Faktor usia bangunan yang telah melewati satu abad disinyalir membuat kekuatan struktural utama bangunan mengalami pelapukan parah pada bagian kayu penyangga atap dan tembok. Polisi kini telah memasang garis pengaman di tempat kejadian perkara (TKP) demi menjaga keselamatan publik dari potensi ambruknya sisa dinding utara gedung yang masih berdiri rapuh.

Sumber:

LATEST NEWS